Tampilkan postingan dengan label live story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label live story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2016

Candi Brahu Trowulan Mojokerto Jawa Timur


Candi Brahu Trowulan Mojokerto East Java Indonesia
Alhamdulillah, kali ini saya akan berbagi cerita tentang kunjungan saya ke salah satu tempat wisata sejarah di area kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Bersama rekan saya Hepi, kali ini saya menuju Candi Berahu yang berada di daerah Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Perjalanan dari pusat kota mojokerto hanya ditempuh dalam waktu 30 menit saja dengan sepeda motor. Kira kira hanya berjarak 8 Km dari pusat kota Mojokerto dan juga hanya berjarak 1 km dari jalan raya Jombang - Mojokerto. Seperti halnya Candi Ringin Lawang yang juga berada di kecamatan Trowulan, Bangunan Candi Brahu ini sudah tampak terlihat dari kejauhan. Setelah melalui jalan raya Jombang Mojokerto dan belok menuju desa bejijong, kami disuguhi bangunan bangunan khas majapahit yang sedang dalam proses pembangunan. Semoga saja pembangunannya cepat selesai dan bisa kita nikmati.  Bila kita sudah berjalan ke daerah bejijong ini maka akan tampak terlihat jelas, hal ini karena bangunannya yang lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya dan berada di area persawahan. Dalam perjalanan menuju Candi Brahu ini,  kami melewati area persawahan yang cukup luas. kami juga sempat berhenti di Candi Gentong yang letaknya 500 Meter sebelah timur Candi Brahu. Jika Candi Brahu ini masih terbilang utuh dan berdiri dengan bangunan yang menjulang tinggi, Candi gentong hanya bisa dinikmati berupa sisa sisa batu bata dari bangunan yang telah porak poranda, dengan pelindung atap di atasnya yang dibangun oleh Pemerintah.


Candi Brahu Tampak dari Sisi Barat
Setelah melewati jalan dengan sekeliling sawah yang luas, akhirnya saya bersama rekan saya sampai juga di depan pintu masuk Candi Brahu ini. Suasananya cukup sepi, tenang dan jauh dari keramaian. Keramaian hanya petugas penjaga yang pada saat kami berkunjung ada sekitar 4 orang. Didepan pintu candi berahu terdapat beberapa pedagang asongan yang menjual makanan ringan seperti bakso, kopi dan minuman ringan. Pengunjung candi pun sangat sepi, hanya ada 2 pengunjung lain selain kami saat itu.
Pertama kali melihat Candi Brahu mengingatkan saya pada buku buku sejarah pada masa SD dulu dimana banyak sekali foto foto candi yang pada saat itu hanya bisa saya nikmat melalui gambar dan belum berkesempatan mengunjungi, alhamdulilah akhirnya datang juga kesempatan ini. Bangunan Candi Brahu yang menjulang tinggi ditengah sawah mirp sekali dengan Candi Ringin Lawang yang juga berada di area persawahan, meskipun jalur menuju kesana harus melewati kampug kampung. Hal tersebut kemungkinan besar karena area disekitarnya mungkin sudah hancur ditelan punahnya peradaban di masa itu.
Setelah memarkir kendaraan, saya membayar tiket masuk dengan biaya Rp3000.- per orang, murah bukan? Yaa begitiulah di Negeri ini, harga kunjung Museum sangatlah murah. Setelah masuk area, kami  pun menyematkan diri untuk berfoto dan mengambil angel dari gambar Candi yang bagus. Saya amati, bangunan tinggi besar ini terbuat dari tumpukan batu bata merah yang disusun rapi seperti halnya bangunan bangunan candi di daerah Trowulan Mojokerto lainnya . Bangunan Candi Brahu terbilang masih Utuh 95 %, hanya sedikit saja dari bangunan tersebut yang rusak akibat tak kuasa menahan panasnya zaman. Bangunan Candi Brahu lebih tinggi dibandingkan dengan Candi Ringin Lawang. Jika Candi Ringin Lawang diperkirakan sebuah gerbang pintu masuk dari sebuah pemukiman, maka Candi Brahu tidak demikian. Pintu masuk Candi Brahu hanya berada di sebelah barat dan tidak ada sisi lainnya. Hal ini meyakinkan saya bahwa Candi Brahu ini kemungkinan besar digunakan pada masanya sebagai tempat pemujaan (kemungkinan) . Saat ini area Candi Brahu terbilang bersih bahkan lebih bersih dibandingkan dengan Candi Ringin Lawang. Namun sangat disayangkan, kami tidak menemukan informasi detail tentang Candi yang dipugar terakhir pada tahun 1995 ini. Informasi mengenai wisata seharusnya dipasang penuh di di area ini untuk memudahkan pengunjung memahami Candi ini.
Candi  Brahu dari Sisi Barat
Begitulah cerita perjalanan kami yang akhirnya berkesempatan mengunjungi banguan bersejarah di Trowulan ini.Bagi teman teman pecinta sejarah nusantara, silahkan mengunjungi Candi Ini untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang kerajaan di Nusantara ini

Senin, 29 Agustus 2016

Kampung Coklat di Kota Blitar


Mumpung senggang nih, saya mau bercerita tentang pengalaman traveling saya ke kampong coklat di Kota Blitar Jawa timur tahun lalu.
Hari ini Kota Blitar tidak berhenti ketenaranya sebagai kota sang Ploklamator RI saja, namun juga ramai tentang kampong coklat,hmmm... penasaran bukan.
Kampung coklat, pertama kali mendengar namanya saja saya sudah membayangkan betapa teduh dan besarnya area itu, lebih lebih lagi dengan coklatnya yang semakin membuat saya penasaran. Perjalanan yang menyenangkan ini saya dan keluarga menempuh waktu sekitar 2 jam dari tempat saya berangkat yaitu di Kediri Jawa Timur. Yang menarik dari satu rombongan ini, tidak ada satu pun dari kami yang hafal dan sudah pernah mengunjungi kampung coklat di kota Blitar ini, namun perjalanan lancar tanpa halangan dengan bantuan GPS dan sekali bertanya ke warga setempat.
Pertama kali masuk ke area ini, kesan pertama adalah panas,penuh sesak dan tidak teratur. Lahan parkir tidak tersedia dengan baik karena menggunakan pekarangan warga sekitar, menarik sich, unik tapi ya sedikit amburadul. Karena umlah pekarangan warga banyak, saya sih menyarankan pakai saja area parkir yang paling dekat dengan area wisata, bukan apa apa , lebih dekat aja supaya tidak teralalu capek jalannya. Bagi yang membawa orang tua, alangkah baiknya diturunkan tepat di depan area wisata supaya tidak lelah.
                              
Loketnya 5000 per orang, sesaknya minta ampun, ramai banget coy, mungkin karena musim liburan sekolah. Begitu masuk kesan yang saya tangkap " lumayan ". Lumayanlah dianggap kampung, meskipun tak seluas yang saya bayangkan pada saat berangkat. Areanya berada di bawah pohon coklat yang rindang tentunya, terdapat banyak kursi untuk menikmati makanan yang terbuat dari coklat yang dijual di area tersebut. Meskipun kursi yang di sediakan banyak, namun jumlah pengunjungnya sehingga kursi yang ada tak mampu menopangnya, apaboleh buat para pengunjung harus bergantian. Selain menjual makanan dari bahan coklat, tempat ini juga menyediakan makanan rumahan untuk makan siang tentunya beserta minumannya. Toiletnya bersih yang dilengkapi juga dengan musholla. Satu hal yang saya inget waktu membeli minuman coklat adalah "lama", mungkin karena begitu ramai pengunjungnya saat itu hingga antrian beli pun cukup memakan kesabaran saya.
 
Ada juga kolam terapi ikan (terapi kaki oleh ikan) tepatnya, ini pun ramai sekali peminatnya.
Saya sih cukup puas dengan mengobati rasa penasaran saya tentang kampong coklat ini. Anak anak saya juga dapat bermain di area anak untuk belajar melukis kue dengan bahan coklat.

Minggu, 28 Agustus 2016

Selalu Ada Yang Lebih Berkuasa, Sang Maha Pencipta

Tak terasa kini saya telah menjadi manusia yang berumur lebih dari 33 tahun. Umur yang pada saat saya duduk di bangku sekolah dasar sering menjadi bayang bayang semu. Umur yang dalam bayangan saya waktu itu menjadi seorang yang berwibawa seperti guru guru saya di sekolah dasar waktu itu. Melewati umur yang cukup panjang menjadi semakin tak terasa karena kasibukan bekerja yang cukup memakan waktu. Penyesalan penyesalah masa muda yang tak memanfaatkan waktu terkadang terlintas di fikiran saya, tapi apa boleh buat karena semuanya berlalu begitu saja.
Dari pengalaman saya, banyak sekali bayangan- bayangan tentang masa depan diri saya, ternyata tidak terjadi. Hal tersebut semakin menunjukkan bahwa segala sesuatu memang tidak musti seperti yang manusia bayangkan. Selalu ada yang lebih berkuasa yakni sang maha pencipta. Kita sebagai manusia harus sadar bahwa setiap keadaan pasti ada hikmahnya, namun hal itu tidak saya sadari ketika saya telah memiliki bayangan bayangan atau kecemasan kecemasan pada waktu itu. Misalnya, saya pada waktu duduk dibangku smp sudah di wanti wanti oleh kakak saya agar saya benar benar tekun dalam belajar supaya dapat diterima disekolah kejuruan negeri, tapi akhirnya masuk sekolah menengah atas. Kemudian pada waktu duduk dibangku sekolah menengah, karena kondisi ekonomi keluarga yang lemah, saya pun sudah menyiapkan diri untuk tidak kuliah, menyiapkan diri untuk siap malu dengan teman teman sma yang sudah memiliki kepastian masuk di perguruan tinggi, tapi ternyata saya justru dapat menginjak bangku kuliah hingga tingkat pasca sarjana.  Banyak teman teman yang menurut saya takdirnya begini begitu tapi ternyata kondisinya berkebalikan dari bayangan saya ketika waktu itu.
Setelah mengamati kejadian demi kejadian, tidak sepatutnya manusia itu berfikir sempit, berfikir yang selalu saja menyalahkan keadaan seperti yang saya alami pada masa sekolah saya dulu. Keadaan keadaan yang tidak memihak seharusnya dapat menjadi cambuk yang memacu kita segera menuju kondisi yang lebih baik. Kondisi kondisi yang berpotensi melemahkan kita tidak selayaknya kita berbaring di atasnya. Namun hal tersebut tidak mudah, karena manusia muda cenderung berfikir sempit. Kondisi keadaaan  yang tidak menguntungkan selalu sulit diterima hingga dapat menyebabkan depresi berat.
Kondisi lingkungan pertemanan yang baik serta keluarga yang bermutu, sangat mempengaruhi jiwa dan hati setiap insan di dunia ini dalam mengarungi bahtera kehidupan

Rabu, 20 Februari 2013

Anakku Tak Rewel Lagi di Tengah Malam

Syukur alhamdulillah anakku sekarang sudah tidak mudah sekali bangun sambil menangis (mengigau) di tengah tengah tidur pulasnya di malam hari. Kini ia mudah sekali untuk memulai tidur dan tidurnya pun sangat pulas sampai akhirnya ketika  bangunpun, ia bangun dengan begitu segar dan ceria yang menandakan tidurnya benar benar  sangat nyaman. Kebiasaan susah memulai tidur kini semakin jarang terjadi. Bangun ditengah malam, dan mengigau meminta sesuatu yang tidak jelas sambil menangis (yang membuat ortunya pusing ) pun kini juga sudah terjadi lagi. Kini anakku telah nyaman dalam memulai tidur dan sampai bangun di pagi hari dengan wajah yang segar dan ceria.

Anakku kini telah berusia skitar 21 bulan dan hampir dua tahun. Anakku telah tumbuh dengan baik menjadi anak yang sehat dan telah berkembang sehat sejak ia lahir. Beberapa bulan yang lalu, anakku telah mengenal televisi. Sebagai perkenalan, tentu aku dan istriku tak akan salah mengarahkan tontonan yang tepat buatnya. Kami sering mengajaknya menonton acara- acara yang sesuai usianya yang sekarang sangat banyak sekali pilihannya. Bahkan kami sering mendownloadkan film-film yang tentu mendidik dan lucu dari internet untuknya. Mulai dari lagu-lagu, dunia binatang dan film kartun lainnya.

Perlahan-lahan anak kami mulai sering menonton acara-acara di televisi maupun film dari hasil download. Meskipun belum dua tahun, ia sudah mulai memiliki pilihan film-film yang mana yang ia suka, misalnya upin-ipin dsb. Awalnya ia hanya menonton ketika saat - saat mau makan, hal ini untuk mengalihkan perhatiannya agar mau makan banyak.Tapi apa yang didapat, makannya memang cukup memuaskan, namun efek yang lain yang timbul justru sangat menyakitkan.

Sejak anak kami mulai kenal televisi itulah, anak kami mulai sulit tidur. Ia semakin mudah untuk tidur larut malam (padahal anak bayi memerlukan tidur yang cukup). Kebiasaan yang dulu tidur sehabis magrib atau isya perlahan lahan semakin hilang. Butuh extra tenaga untuk mengantarnya tidur dengan nyaman, dan selain itu, sejak itu ia mudah sekali bangun di tengah malam hanya untuk meminta sesuatu yang tidak jelas. Minta apa apa, namu jika dikasih tetap saja salah, bahkan gampang menangis di malam-malam itu. Terkadang aku atau istriku harus menggendongnya lama-lama untuk menidurkannya kembali, dan itu mulai sering terjadi.

Pelan pelan kami mulai berfikir dan mencari tahu apa sebenarnya penyebab anak kami yang sulit tidur pulas itu. Sedikit-demi sedikit kami memilah milah apa yang sebenarnya terjadi. Pada akhirnya kami banyak membaca artikel di koran maupun internet yang menjelaskan kondisi psikologis anak -anak di bawah 3 tahun. Anak-anak di bawah tiga tahun sama sekali tidak direkomendasikan menonton acara televisi. Bahkan dalam sehari anak-anak tersebut tidak boleh menonton lebih dari 30 menit saja. Jika kebiasaan menonton televisi pada anak ini dibiarkan, banyak efek jangka pendek maupun jangka panjang yang terjadi. salah satu yang cepat tampak adalah membuat anak tersebut sulit tidur dll.

Sejak itulah, kami berdua berkomitmen untuk menonton televisi kala anak kami sedang tidur, atau pun kalau sampai anak kami yang belum dua tahun ini menonton, ia tak boleh berlama lama di depan televisi. Dan hasilnya luar biasa. Kini anak kami sudah kembali seperti dahulu, ia mudah sekali memulai tidurnya, dan tak mudah bangun di malam hari. Ia tak mudah bangun dan meminta macam-macam yang tidak jelas. Kini ia sudah hampir lupa dengan acara-acara televisi. Permainan permainan yang lain yang lebih mendidik justru membuatnya semakin tumbuh dengan baik.

Semoga pengalaman ini bermanfaat

http://health.kompas.com/read/2012/01/24/1613483/Di.Bawah.3.Tahun.Anak.Tak.Disarankan.Nonton.TV

http://health.kompas.com/read/2010/10/12/17383141/Banyak.Nonton.TV.Psikologis.Anak.Terganggu

Kamis, 14 Februari 2013

Cara Memilih Durian

sumber: google.com
                                      
Kali ini saya akan menulis pengalaman saya dalam membeli atau memilih durian yang tentunya berkualitas dan tidak mengecewakan.

Durian memang buah yang super. Banyak sekali penggemarnya meskipun tidak sedikit orang yang benar benar muak kala mencium buah beraroma tajam ini. Saya sebagai penggemar durian, juga bukan tipe orang yang doyan sejak kecil. Pengalaman pertama mengincipi durian adalah saat mendapat durian dari pemberian tetangga di desa. Karena penasaran, maka saya memberanikan diri mengincipi buah durian dengan cara menutup hidung rapat rapat. Cara tersebut rasanya ampuh sekali merubah diri saya yang sebelumnya muak ketika tercium bau durian dan rasa ingin menjauh, menjadi seorang yang kalap dengan durian (maniak red). 
Durian bagi saya adalah buah yang sangat menyenangkan, rasanya manis enak, baunya pun sangat harum. Namun jika dikonsumsi terlalu sering (everyday red) tentu akan dapat meninmbulkan sakit perut, kolesterol tinggi dan yang tidak kalah penting bagi saya adalah kantong kering mengingat harganya yang tidak semurah tempe kedelai hehehe.

Bagi saya durian lokal lebih menggiurkan daripada buah durian impor. Durian lokal yang berasa manis dan berwarna sedikit kuning adalah jauh lebih maknyus daripada durian pahit. membeli durian di tempat langganan jauh lebih memudahkan kita untuk menawar harga serta memudahkan kita memilih buah yang berkualitas

Perlahan lahan kini saya sudah mencapai tingkat penikmat durian dengan label "pemilih", hal itu merupakan label kapasitas yang saya buat sendiri :). Sebagai seorang yang dari awal tidak suka, menjadi doyan dan sampai menjadi penikmat durian, kini saya dapat memilih durian yang berkualitas tanpa bantuan si penjual durian. Semua itu datang dari pengalaman dan keberanian belajar sedikit demi sedikit dalam membeli dan memilih durian.
Berikut ini beberapa tips atau cara yang ampuh ketika membeli atau memililh buah durian :

  • Pilihlah durian yang tampak simetris atau bulat karena isinya jauh lebih banyak ketimbang yang lonjong meskipun kualitasnya sama sama bagus.
  • Pastikan durian tersebut masih segar, hal tersebut dapat terlihat dari durinya yang cenderung masih runcing (tidak layu), tangkai masih segar (tidak keriput)
  • Durian masak pohon salah satu cirinya dapat dilihat dari potongan tangkainya yang sedikit kasar begerigi  keliling sempurna, tidak seperti putus dipaksa atau sangat halus seperti hasil potongan benda tajam
  • Jangan pernah memilih durian yang sudah berlubang karena busuk (ulat,semut dll) atau lubang lainnya,biasanya si penjual akan bilang kualitas tetap bagus, dan tidak apa-apa, dan harganya akan didiskon. (padahal rasanya tidak akan se-enak buah durian yang masih utuh/ belum berlubang, dan tidak akan pernah
  • Jangan memilih durian yang sudah retak, atau retak ditali, atau retak karean dibuka pembeli yang tidak jadi, karena meskipun kualitasnya bagus, tidak busuk, besar dll, hal ini akan berpengaruh bagi rasa yang tentu kurang maksimal
  • Durian yang sudah masak akan menghasilkan bau yang sangat menyengat meskipun belum dibuka sama sekali
  • Para penjual yang datang dari luar kota, biasanya akan membawa durian yang tidak semuanya masak pohon, hal ini karena untuk menjaga agar tidak mengalami kerugian. Durian yang masak pohon tentu tidak akan bertahan terlalu lama, apalagi jika sudah retak dari sononya. Maka cara paling ampuh adalah segera mendatangi si penjual kala mereka baru saja datang dari tempat panen durian. Saat itu akan banyak sekali durian masak pohon yang berkualitas yang tersedia
  • Sebagai pembeli pastikan durian tersebut dicoba sebelum dibeli, bilang kepada penjual agar tidak terlalu lebar memberi jalan untuk mencicipi karena kita tidak segan segan memilih durian lain jika rasanya kurang enak. 
  • Ketika mencicipi, pastikan durian lunak, manis harum, tidak manis anyap.jangan buru-buru,rasakan dua kali jika ragu, jangan pernah mendengar omongan si penjual, jika tidak sreg, jangan pernah mau membelinya, karena kebanyakan penjual akan selalu bilang," enak nih , duh mak nyus pastinya,buka dimana nih sini ya", karena omongan itu akan membuat kita sedikit terbawa, padahal rasanya kurang pas. padahal mereka sudah siap untuk tidak dibeli ketika duriannya kurang enak
  • Percayalah bahwa anda adalah seorang pembeli yang notabenya seorang raja, jadi jangan manut atau menjadi pengikut (alias ngikut aja apa kata penjual).

Semoga pengalaman saya tersebut dapat bermanfaat.

Kamis, 03 Januari 2013

Taman Wisata Pagora Kediri



Taman Wisata Pagora


Sudah sekian lama saya tidak mengunjungi tempat wisata di kota tempat kelahiran saya ini. Sejak lulus sma dan merantau ke Jakarta, saya sama sekali tidak pernah mengunjungi tempat wisata yang ketika masih duduk di sekolah dasar atau smp sering saya kunjungi bersama keluarga ataupun teman-teman. Kurang lebih 10 tahun yang lalu saya bersama teman-teman terakhir berkunjung ke tempat wisata yang ramai dikunjungi warga kediri dan sekitarnya untuk berenang dan berpiknik ria. 

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Setiap kali saya melewati jalan depan Pagora ini, saya selalu ingin mampir sejenak untuk melepas kangen dan melihat seperti apakah kondisi pagora sekarang. Apakah sudah berubah, sudah berubah drastis atau malah tetap seperti dulu tampa perubahan berarti. Namun keinginan itu tak pernah juga kesampaian.

Sekitar beberapa bulan lalu, tepatnya ketika liburan Idul Fitri, saya akhirnya dapat berkunjung ke tempat wisata pagora ini bersama -sama istri, anak dan keponakan. Rasanya senang sekali, meskipun tanpa rencana, akhirnya setelah kurang lebih 15 menit ( deket ya), kami sampai juga di tempat favorit saya ketika waktu kecil. Favorit diwaktu kecil (pasti) karena tidak ada lagi tempat yang begitu murah meriah untuk berekreasi. Bisa dibilang hampir semua orang di sekitar kediri mengenal tempat yang satu ini, tempat untuk mengajak keluarga berekreasi dengan biaya yang murah meriah.

Setelah masuk saya agak terkejut, tak ada yang berubah drastis dari tempat wisata tua ini.Tak banyak berubah, kalau pun ada itu hanya sangat sedikit sekali. Patung patung yang menghiasi tempat ini benar benar tak banyak perubahan. Hiburan dangndut yang dulu sangat ramai dan terkenal, masih menghibur di area tempat wisata pagora ini. Saya masih ingat betul dimana saya dulu menyimpan baju ketika berenang, semuanya masih sama. Semua masih seperti sepuluh tahun yang lalu. Tapi tak mengapa, akhirnya kami dapat  menghabiskan waktu sejenak di tempat wisata masa kecil saya ini. 

Senin, 17 September 2012

Kamu Punya Mimpi



hai hai.. you have a dream? aha. when was that happened? how many dreams of yours come true? or  is there any come true?. congratulations for you that getting your dream come true, and good luck for you who still dreaming at present.
There are many people believe about their dream will come true sooner or later. How many people? definitely a lot. Do you sometime believe that what you get now is your dream in past? how often you feel like that? all achievements or some of them? or nothing?
Some people convince what they get is nothing about dream, they got what they had done before. They do not believe about dreaming come true. 
Do you ever remember when you pass on the street, and you remember some dream about you do before, and you has just realized that what the street you pass that is ever coming in your dream before, so that you feel like doing it in twice? or about your house now. Is it your dreaming house before ?how often that happened?
We are living as the social creature and living with love and care. Do you ever imagine about living outside of your condition now. Do you ever imagine how if you living there and not living here, schooling there not schooling here, working there not working here. Have you ever heared a proverb,  different ponds different fish,  the neighbour's grass is greener. We are living as the dreaming creature, lets we dream, because our dream is our action

Selasa, 22 April 2008

Aneka Ragam

Senin, 21 April 2008

Supir Angkot Yang Lucu




HARI ini lucu pagi2 tadi naek angkot m24. 200 meter sebelum tempat penurunan terakir angkot tiba tiba berhenti , dan mati ga bisa nyala . Sementara diangkot masih aga ada7 an penumpang. Sang sopir masih berusaha menyalakan lagi . Para penumpang sedang gundah diam dan menanti apa yang sedang terjadi . Waktu trus berjalan , tak lama kemudian sang supir keluar dan menutup pintu tanpa menghiraukan penumpang .Tiba tiba ada diangkot sesama jurusan lewat , sang supir menyapa dan dia bilang, " ikut2" . Para penumpang diam dan menanti untuk disuruh ikut angkot yang lewatt itu. Tak disangka supirnya masih tak melihat atau mempedulikan para penumpang , dan Ternyata dia yang ikut angkot itu sambil jalan dan naek angkot yang lewat tadi . sang supir dengan wajah tanpa dosa melambaikan tanga tangannya sambil lenggang naek angkot itu dan bilang""tunggu bentar yaa""" .Wahhh langsung para penumpang berwajah""""?muram , dan salah satu penumpang bilang"gila kali supirnya ya"" dan aku ajakin ayuk pergi ajak yukkk .7 orang langsung jalan keluar aku paling depan berjalan ke tempat arah masing2 dan dalam hati para penumpang pada ber tanya tanya""" ko aneh supirnya ya .. .Ehhehhh ga jauh kita berjalan sang supir yang naek angkot tadi turun dan membeli bensin botolan>>>>>>>>>>>>> ohh ternyata...
Dan sang sopir lari menuju mobilnya yang sudah kosong melewati para penumpang yang sedang berjalan .Nahhhhhhhhhh dalam pikiran penumpang, ""salah sendiri" pergi ga pake alasan"" untung Rp2000 deh haaaaahahhahaaa

The-End

Rabu, 06 Februari 2008

Smuanya Bukan Rencana




Kok bisa ya.Smuanya Bukan Rencana



Bagi diriku, sama sekali tidak pernah terpikir sedikitpun ataupun bercita cita akan hidup dan menetap di kota jakarta ini, kota dimana segala macam pusat pemerintahan, perdagangan, bisnis, dan pusat pusat apapun hingga aku banyak menyebutnya, semua berpusat di jakarta ini.

Jakarta yang dulunya dalam bayanganku sebagai kota jauh sekali dari kampung halamanku di Kediri Jawa timur, kini tidak lagi. Jakarta yang dulunya harus memerlukan berjam jam hingga bermalam dijalanan untuk mencapainya kini tidak lagi. Transportasi dan segala hal yang mempercepat untuk menjelajah ke Jakarta telah tersedia.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Diriku telah sekian lama dan hampir 6 tahun berada di kota yang dulunya tidak pernah aku bayangkan bahwa aku akan merasakan hidup di Jakarta. benar benar tidak pernah.sekali lagi tidak pernah. Perjalanan pendidikankulah yang membawa diriku harus berada di jakarta ini tanpa syarat apapun.

Konon kata orang banyak dikampungku Jakarta merupakan sosok kota yang mengerikan sekaligus menyenangkan. mengerikannya dapat digambarkan dalam sebuah lagu dijaman masa kecilku dulu, yang sedikit aku masih ingat liriknya, antara laen begini,".... jakarta akeh lamuk'e , tukang becak akeh duwite"....yang artinya bahwa jakarta ini kota yang banyak nyamuk, dapat diartikan bahwa jakarta memang bukan tempat yang enak untuk dijadikan tempat berteduh, tidak enakk untuk tempat tinggal, tidak enak untuk hidup. Sedangakan lirik lagu lama yang menyebutkan bahwa tukang becak akeh duwite dapat diartikan bahwa di kota jakarta metropolitan ini mudah mencari uang hingga abang becak pun banyak uangnya.

laen lagi berbicara lagu, di dalam kamus keseharian di kampungku sudah bukan rahasia lagi bahwa jika hendak pergi ke Jakarta Harus siap pasang susuklah, beli sabuk berisi doa doalah ,pergi ke dukunlah, kiai dan segala macamnyalah , yang intinya itu untuk mendapatkan pegangan atau senjata rohani, atau bisa dikatakan senjata goib yang bila mana dijakarta nanti bertemu orang jahat akan siap menghadapinya tanpa bingung melawanya sedikitpun. Bahkan tak sedikit seorang ibu harus melangkahi 3 kali anaknya sebelum ia berangkat menuju kota yang besar dan keras itu demi menjaga hubungan batin antara ibu dan anakya, supaya tidak terjadi layaknya Malin Kundang di Sumatera Barat itu. Nah hal itu juga terjadi pada diriku, hingga aku pun harus siap dilangkahi ibuku 3 kali beberapa menit menjelang keberangkatan diriku ke Jakarta waktu itu."pokoknya harus siap lah kalo mau ke jakarta" kata temanku yang waktu itu telah lama pernah pergi ke jakarta.

Nah..kalau kita menengok rentetan cerita tadi kita dapat membayangkan betapa membahayakan dan mengerikan sekali bila kita hendak pergi merantau ke Jakarta tanpa siap segala galanya.

Hal itu juga yang membuat aku takjup sedemikian rupa dan kaget ketika sekarang aku dapat berfikir, “ko Bisa aku ini hidup selama ini di Jakarta . Ko bisa Diriku dulu yang tidak pernah bercita cita akan pernah mengalami hidup di Jakarta ini akhirnya mengalaminya juga. Ko bisa semua ini tanpa keinginan. Ko bisa ya aku melakukan perbuatan bodoh ini.
Pertayaan kok bisa kok bisa ini lah yang kadang kadang membuatku berontak, melawan, dan akhirnya menyadari bahwa selama tidak menyimpang, aku mensyukuri apa yang telah terjadi pada semua yang tanpa rencana tadi , dan menerima dengan legowo apa yang telah terjadi tanpa cita cita itu. Karena gampang saja, Kalo bukan oleh Manusia, hal itu memang telah direncanakan bukan Oleh Manusia.

David Achmad

Anak Anak Ayam


Tak semua tamu membawa oleh-oleh dan tak semua oleh-oleh ternyata menyenangkan tuan rumah. Contohnya adalah tamu yang satu ini, yang datang dengan oleh-oleh aneh: tiga ekor anak ayam. Yang dituju pastilah anak-anak saya yang masih kecil-kecil, karena anak ayam yang dibawa ini adalah jenis yang telah diguyur warna merah, hijau, kuning, seperti manisan.
Tamu ini benar, karena dalam sekejap saya anak-anak saya sudah histeris dengan mainan hidupnya. Tamu ini mengira bahwa tujuan mulianya berhasil karena ia juga tampak begitu bergembira. Begitu gembiranya hingga lupa kalau saya dan istri saling pandang dengan muka ditekuk.
Tapi di hadapan tamu yang tulus ini, kami harus secepatnya tahu diri. Kami pun segera terlibat dengan ayam yang memang lucu itu. Walau kegembiraan kami adalah palsu belaka. Kelucuan ayam ini sungguh menjadi tak penting lagi. Karena jauh lebih penting adalah membayangkan betapa repot nanti mengurus tahinya, bagaimana kandangnya dan berapa lama kami harus memeliharanya.
Di rumah kami yang kecil, tambahan makhluk hidup, betapapun lucunya, mengandung risiko yang tidak sederhana. Soal tempat dan kotoran, itu yang pertama. Soal pemeliharaan itu soal yang kedua. Rumah sekecil ini habis sudah untuk berhimpit kami sekeluarga. Tenaga istri habis sudah untuk mengurus anak-anak yang memilik tingkat kenakalan ekstra. Sedang anak-anak, cuma bisa menyukai ayam-ayamnya. Mereka masih terlalu kecil untuk bekerja, tapi sudah terlalu berkuasa untuk main perintah kepada orang tuanya.
Akhirnya, ayam-ayam ini benar-benar menjadi persoalan serius. Tiga hari pertama, hewan-hewan kecil ini telah menjadi tiran yang sanggup memerintah kami semua. Di pagi hari kandang kecilnya harus dikeluarkan, kotorannya harus dibersihkan, makanannya harus disiapkan. Dasar ayam, dan masih anak-anak pula, jika malam dan kedinginan, mereka berciat-ciat sedemikian rupa. Yang berciat-ciat ayamnya, yang rewel anak-anak saya, karena si sulung harus gelisah tidurnya. ”Dimasukkan dalam kamar, diselimuti,” pintanya!
Kami tentu melotot atas permintaan ini. Lebih melotot lagi ketika permintaan ini tidak boleh tidak harus dituruti. Jika tidak, ancamannya serius. Kami paham betul watak si sulung. Ia akan melawan dengan taktik yang merepotkan: tangis tertahan semalaman. Benar-benar celaka. Maka hingga saat ini, ayam-ayam itu telah pindah ke dalam, ke tempat terhormat dan hebatnya, anak-anak ayam itu menikmatinya. Anak saya dan ayamnya lalu tidur tenang bersama-sama. Ganti orang tuanya yang gelisah oleh kejengkelan.
”Ayam ini terlalu terhormat,” kutuk saya di depan istri, ketika anak-anak telah tertidur. ”Kembali dikeluarkan saja,” keputusan saya. Istri pasif saja. Tampaknya ia kesulitan bersikap. Di dalam, ayam itu memang menganggu, tapi di luar, ia pasti tak tega. Anak dan emaknya ini memang sama saja wataknya terhadap binatang, serba tidak tega. Tapi sikap mendua istri ini tetap sebuah modal untuk membulakan tekad: ayam itu harus dikeluarkan. Wah, lega rasanya, lepas dari tekanan ayam.
Tapi astaga, tak lama kemudian ayam-ayam celaka itu berciat-ciat lagi dengan marahnya. Saya dan istri kembali saling pandang membayangkan risiko yang saya takutkan dan risiko itu akhirnya datang juga: sulung terbangun untuk menengok ayamnya kembali. Ia luar biasa kecewa atas tindakan sepihak bapaknya ini. Dan sejak malam itu, ia berangkat tidur dengan ketakutan dikhianati orang tuanya. Karena takut dianggap pengkhianat, saya pun menyerah, menempatkan ayam-ayam itu kembali di tempat terhormat, hingga hari ini.
Kini ayam-ayam itu mulai membesar dan kasih sayang anak-anak kami terhadap mereka makin besar saja. Kami sekeluarga memang repot bukan main, tapi saya mulai tenteram karena ayam itu membuat saya bisa belajar ketulusan dari anak-anak saya, meskipun cuma kepada ayam.
By Prie Gs

Selasa, 05 Februari 2008

Hati ini kadang berkecamuk

Kali ini aku akan bercerita mengenai keadaan hatiku ini yang kadang kadang sangat mudah dikendalikan dan kadang kadang sangat sulit sekali. Ketika aku marah karena tidak puas dengan suatu keadaan yang menurutku tidak benar hati ini rasanya sangat ingin berontak, berontak sekuat tenaga hingga benda apapun ingin sekali aku hancurkan, ingin sekali benda pecah belah seperti piring, gelas dan semua barang dapur itu aku banting dan membuang rasa marahku itu. Bahkan tak jarang handphone yang ada digenggaman tanganku ini ingin sekali aku remat hingga remuk dan aku lempar ke lantai. Itulah beberapa sekelumit dari keinginan keinginan yang datang ketika rasa marah dan kesal sedang menghampiri diriku. Tapi sampai saat ini aku bersyukur karena perbuatan perbuatan itu hanya ada dalam angan anganku ketika rasa marah itu datang kepada diriku. Dan semua itu sering sekali terjadi pada diriku, Entah karena aku memang ditakdirkan untuk bisa mengendalikan emosiku atau memang Tuhan masih akung kepada diriku. Nah pernah suatu ketika keadaan tidak biasa seperti ini menggodaku dan benar, kali ini aku benar benar tak kuat menahan rasa yang meluap luap yang bersembunyi di gorong2 perasaandi dalam tubuh aku ini. Dipagi hari, aku masih ingat ketika hendak berangkat kantor yang berada di daerah pancoran sekitar pukul 6 30 aku keluar dari rumah kost aku. Rumah kos dimana aku telah hampir 4 tahun lamanya aku berteduh di Jakarta ini. Nah, seperti biasanyakan aku ini lebih senang naik angkutan umum sehingga demi kesenengan yang ada pada diriku, sepeda motor yang kubeli sendiripun harus aku onggrokkan di halaman kos aku, dan jarang sekali aku pergunakan berangkat kerja. Kembali ke masalah berangkat kerja tadi, sesaat setelah berada di atas bus jurusan grogol- uki itu, para kondektur bis segera menghampiriku dan menengadahkan tangan tanda aku harus segera memberikan uang ongkos perjalanan pagi ini. waktu itu angkutan yang aku tumpangi tak ada hal yang berbeda dari biasanya. Banyak anak sekolah, karyawan dan karyawati yang sangat rapi dan berbagai wangi parfum, bedak, diodoran dan semuanya berjubel dalam bis bekas ini, yang konon katanya bis ini adalah impor dari Negara Matahari Terbit. Sembari duduk pandangan aku tertuju pada kondektur yang dengan sabar menghampiri para penumpangnya untuk menarik ongkos. Kondektur ini hebat, dalam mata hati aku berkata demikian. Terus dan terus sambil menelanjangi kelebihan dan kekurangn kondektur ini hati aku terus berfikir dan berfikir betapa bersyukurnya aku tidak menjadi kondektur dan betapa sedihnya aku tidak bisa bersyukur dengan keadaan seperti itu. Seolah olah aku ini terus menyalahkan diriku . Nah keadaan berfikir pasif yang terjadi ini akhirnya berheti. Berhenti bukan karena bus yang aku tumpangi ini mogok tetapi karena keadaan di dalam Bus yang aku tumpangi ini tiba tiba berkecamuk hebat.Tiba Tiba kegiatan yang tak biasa terjadi, kali ini terjadi, suara teriak sang kondektur yang berdiri tidak jauh dari diriku ini sangat kencang dan keras memberi tanda ke Supir agar Bus sesegera mungkin di hentikan, kalau perlu secepat kilat. Yah mungkin seperti itulah dalam bayangan aku, kondektur ini menginginkan bus berhenti secepatnya mengingat bis melaju kencang. Mata aku terus memperhatikan kondektur ini tanpa henti, gerak geriknya aku perhatikan betul untuk memastikan apa yang terjadi. Setelah Memperhatikan kondektur ini dan orang orang disekeliling kondektur ini akhrnya aku menemukannya. Mata aku segera tertuju pada seorang lelaki cukup umur ,tidak begitu tinggi dan berbadan tidak gemuk, berjaket hitam, dan menangklong tas di tangan kananya, yang berada tepat didepan kondektur ini. Iya, persis mepet dengan kondektur ini dan berhadap hadapan, dan juga bisa dikatakan gontok gontokan. Apa yang selanjutnya terjadi terpaksa akan aku tulis bersambung kedalam Page berikutnya

david.achmad

Pelajaran yang tak pernah aku tamatkan dari Prie GS

ada jenis pelajaran yang aku selalu gagal lulus dari ujiannya. Pelajaran itu bernama buruk sangka. Di usia kanak-kanakku dulu, aku pernah amat terhina ketika disapa dengan cara yang menurutku tidak semestinya. Aku punya panggilan kesayangan yang membuat aku ketagihan. Penyebutan di luar sebutan itu, apalagi langsung main sebut nama asliku, akan terasa asing dan tidak ramah di hatiku. Aku akan menafsirkan pemanggil itu sebagai orang yang tidak sayang kepadaku. Dan aku bisa menjadi pemberontak di hadapannya.
Begitu juga dengan orang tua satu ini. Ia saudara jauhku, pertama kali bertemu dan kasar memaggilku. Aku marah sekali dan kujawab ia dengan tak kalah kasarnya sebagai bukti perlawananku. Orang tua itu terpana. Ia kaget sekali atas reaksiku. Bertahun kemudian baru kusadari betapa reaksiku itu cuma bikin malu. Ia adalah saudara yang amat baik kepadaku. Ia tidak kasar, cuma serba menggelagar. Hingga saat ini, sikap itu adalah jenis kebodohan yang amat aku sesali.
Ketika masuk umur remaja, aku mulai jatuh cinta. Jatuh cinta kepada seseorang yang menurutku jelek sekali. Ya wajahnya, ya kelakuannya. Jika di sekolah kami ketemu, dengan suka cita aku menyingkirinya. Jika kebetulan aku melihat dia sedang bercanda, kuanggap hanya teknik menarik perhatianku saja. Bertambah tambah belaka kejengkelanku padanya.
Lama aku membenci gadis ini sampai kemudian aku mengerti reputasinya. Ternyata ia selalu ranking satu, tulisannya rapi, bintang organisasi dan yang naksir banyak sekali. Melihat bahwa ia bukan sembarang perempuan, tiba-tiba semuanya berubah. Tertawanya berubah menjadi merdu, senyumnya mengharu-biru dan wajahnya jadi cantik sekali. Pelan tapi pasti, aku jatuh cinta kepadanya. Dan ketika cintaku sudah sedemikian rupa, ia ganti menolakku! Eh, tepatnya bukan menolak, karena bahkan ia tak pernah menggubrisku!
Ketika aku sudah mulai bekerja, aku merasa jagoan dalam profesiku. Maka ketika ada orang yang menurutku bodoh tapi sok tahu, seluruh kebencianku tertumpah kepadanya. Aku masuk dalam geng gosip yang menggunjingnya dan menyebut-nyebut bentuk kepalanya sebagai kepala duren! Ya buah durian itulah yang kami sebut mirip kepalanya, bukan benar-benar karena bentuknya, melainkan pasti karena kebencian kami saja.
Tetapi astaga, orang yang aku benci inilah orang yang kemudian menolong kami ketika sedang dalam kesulitan masuk gedung pertunjukkan. Ia adalah orang yang dengan jelas menunjukkan kualitas budinya, ketika kami sedang dalam kesusahan. Kini aku selalu mengingat orang ini dengan rasa hormat yang mendalam. Bertahun-tahun aku meratapi kesalahan ini dan berjanji tak akan memandang rendah orang lagi.
Tapi janji memang cuma janji. Bayangkan, jika aktor sekelas Roy Marten saja bisa kejebak kesalahan dua kali, apalagi diriku yang pasti bukan Roy. Maka kesalahan yang sama pun terulang lagi. Kali ini menyangkut orang tua yang mengetuk-ketuk pintu rumah dengan kerasnya. Ia orang asing dengan dandanan sederhana dan tak kukenal pula. Maka satu saja tafsirku: ini pasti pencari sumbangan yang memang gemar lalu-lalang di kampungku. Gayanya khas, keramahannya palsu, terbukti jika ditolak ia berlalu sambil menggerutu. Ia juga bisa main gebrak pintu tanpa kenal waktu. Maka melihat orang tua ini yang terus mengetuk-ngetuk pintu itu sudah cukup membuat kesal hatiku. Kutemui dia cuma untuk segera menghardiknya. Tapi alamak, ia ternyata adalah pemilik urusan yang telah lama aku rindu. Ada sebuah urusan yang jika orang ini tak ada, akan menjadi gelap akhirnya. Aku sudah pusing mencari siapa orang ini dan di mana alamatnya, tahu-tahu malah nongol sendiri di rumahku.
Tetapi sungguh, aku lupa bergembira karena telah sibuk didera rasa malu. Ketika ia pamit, aku menatap orang tua itu dengan perasaan remuk redam dan rasa bersalah yang gagal aku ungkapkan. Aku khawatir, buruk sangka adalah jenis ujian yang aku tak kunjung sanggup menamatkan.

By Prie gs

Ada Langit Di Rumahku

Ada langit di rumahku
Karena rumahku kecil maka hanya ada satu cara jika harus menambah ruang: meninggikannya. Tetapi karena meninggikan rumah tidak murah, maka ia bisa terhenti ketika pembangunan baru jalan setengah. Setengah pembangunan inilah yang akan aku ceritakan karena ia cuma meninggalkan hamparan lantai beton tanpa bangunan. Maka jadilah beton sebagai salah satu atap rumahku. Dan di atas beton ini adalah ruang terbuka dengan langit sendiri sebagai atapnya.

Semula aku mengira rumahku adalah jenis rumah terbengkalai korban salah perencanaan. Bukan... bukan salah rencana, melainkan rumah ini memang adalah produk tanpa rencana. Semula ada juga bermacam-macam kejengkelan, perasana marah dan menyesalan. Bukan datang dari diriku sendiri, melainkan dari orang-orang yang datang. Mereka bisa saudara dekat, bisa saudara jauh, bisa sekadar tetangga dan teman.

Tapi siapapun mereka, senada saja komentarnya. ‘'Lengkap sekali kekacauan di rumahmu ini'' begitu biasa komentar yang saya dengar. Lumayan jika komentar itu cuma berhenti hingga di sini. Aku sering tegang menunggu komentar selanjutnya, karena makin panjang, cuma makin menyinggung perasaan. Misalnya; ‘'Ini pasti karena engkau membangun rumah sekaligus engkau tempati. Jadi ini arsitektur gerilya!'' kata pihak lain biasanya dengan tawa mereka. Tak jarang mereka mengomentari sambil geli pada imajinasinya sendiri. Semakin mereka gembira, semakin tersinggung hati saya.

Padahal komentar itu bisa diteruskan lagi; ‘'Tidak apa-apa sebetulnya membangun rumah sambil tetap dinempati. Asal... tetap terencana. Tetapi ini pasti rumah hasil rencana pembangunan lima tahunan alias repelita, yang tidak nyambung. Setiap lima tahun berubah rencana tergantung duit yang ada.'' Kata yang lain lagi. Kata-kata iu semakin menyakitkan karena semakin cocok dengan kenyataan. Tegasnya, rumah ini menjadi kacau begini, pasti karena kemiskinanku. Karena cuma bisa jengkel tapi tak berdaya, maka semua akhirnya aku iyakan saja.

Malah kejengkelan kuteruskan saja, seluruh rumahku, akhirnya kunikmati apa adanya lengkap dengan semua kekacauannya, termasuk lantai beton yang beratap angkasa raya itu. Malah kini aku sedang bertaruh dengan diriku senidri, kalaupun uang sudah ada, akankah aku dirikan bangunan di atas lantai beton ini, seperti yang aku bayangkan semula. Rasanya tidak! Aku mencintai hasil pembangunan setengah jalan ini karena sebuah sensasi yang tak terduga.

Pertama setelah kuteliti, di seantero kampung, rasanya cuma rumahku yang memiliki atap langit seperti itu. Selebihnya adalah ruang-ruang yang seluruhnya tertutup. Kalaupun ada rumah yang meninggi, mereka langsung mengatapinya. Sudah berumah kecil, tertutup pula, jadi betapa sumpeknya. Mak setiap kali aku sumpek, aku cukup menuju ke lantai beton beratap langit ini. Hasilnya luar biasa. Dari sebuah kamar yang sumpek, aku langsung ketemu langit yang terhampar begitu luasnya!

Aku segera melihat kaki langit, horison-horison yang jauh serta beberapa gunung yang ada di tanah Jawa di pagi dan sore hari. Jika malam hari, dan aku berebahan di lantai beton itu, bintang-bintang segera berserak di atasku. Indah sekali. Dan kepada bintang-gemintang, aku selalu mencari komposisi yang diajarkan oleh ibuku dulu ketika malam-malam kami bersantai di halaman.

Sebuah bintang yang letaknya sedemikan rupa, sehingga bentuknya menyerupai bajak petani. ‘'Jika ia telah condong ke barat, pertanda malam sedang bersiap pagi,'' begitu kata ibu. Jika bulan puasa tiba, dan kami belum punya weker sebagai penanda, kami cukup keluar rumah, untuk melihat kedudukan bintang ini. Jika letaknya sudah bergeser ke ufuk barat, pertanda jadwal makan sahur sudah tiba. Bintang ‘'bajak petani''itu hingga sekarang masih menjadi bintang idolaku.

Jika aku sedang kesal dengan istriku, dengan kenakalan anak-anak, atau penat dengan pekerjaan, lantai beton itu menjadi obatku. Aku cukup berdiri di atasnya, menatap ruang terbuka, melihat bukit-bukit yang jauh di siang hari, dan melihat bintang-gemintang di malam hari, maka luruhlah kekesalan hatiku. Karena setelahnya, baru aku merasa bahwa kejengkelan pada istriku itu, ternyata adalah kejengkelan pada diriku sendiri, bahwa kemarahan pada anak-anakku tak lebih dari kemarahan pada diriku sendiri. Selanjutnya, anak-anak dan istri, kembali menjadi orang-orang menyenangkan di mataku.

Jadi rumahku dengan lantai beton beratap langit itu adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Di atasnya memuat banyak keindahan, efek terapi dan akses tak terbatas menuju langi luas. Rumahku yang sempit menjadi luas karena bangunan salah rencana ini. Di rumahku ada langit, aset yang aku sulit menaksir nilainya!

By PRie Gs

Senin, 04 Februari 2008

Apa yang Terjadi

Diriku ini
apa si yang terjadi pada diriku ini
apakah juga terjadi pada diri orang laen
mengapa terjadi
apakah ini keadaan normal

kadang aku bingung
dan kadang aku bingung sekali
ingin aku membuang jauh kebingungan itu
dan aku merasakan sedih dan senang

apakah harus mengambil resiko itu
membiarkan salah dari satu menangis
entah diriku ini
Tuhan, aku bersujud kepadamu